KAPITAN PATTIMURA (Refleksi 202 Tahun Hari Pattimura)

 

IMG_20190515_030731.JPG

 

 

 

Oleh : Hendra Kasim

Beta Generasi Maluku

 

 “Pattimura-Pattimura tua boleh dihancurkan,  tetapi kelak Pattimura muda akan bangkit” – Kapitan Pattimura

 

Setiap Tahun tepatnya tanggal 15 Mei, masyarakat Maluku merayakan hari Pattimura. Pada tahun ini, tepatnya 15 Mei 2019, kita memperingati 202 tahun hari Pattimura.

Histori Pattimura; Problem Asal Usul

1557854808064.jpgKisah heroik perjuangan Pattimura melawan penjajah di tanah Maluku bukanlah pepesan kosong. Perjuangan melawan penjajah dengan semangat hendak merdeka menempati catatan sejarah perjuangan yang turut menginsipirasni perjuangan Bangsa Indonesia mengusir para penjajah.

Buku yang pertama kali membahas mengenai Pattimura adalah karya M. Sapija yang mengulas bahwa Pahlawan Pattimura tergolong keturunan bangwasan dan berasal dari Nusa Ina (Pulau Seram). Ayahnya yang bernama Antoni Mattulessy adalah anak dari Kasimiliali Pattimura Mattulessy. Yang terakhir ini adalah Putra dari Raja Sahulau. (Wikipedia.org). Biografi Pattimura yang tulis oleh M. Sapija ini oleh sebagian kalangan disebutkan sebagai biografi versi Pemerintah.

Asal usul Pattimura hingga saat ini masih menjadi perdebatan apakah berasal dari Saparua, Hulaloy, Latu, atau kampung lain di Maluku. Perbedaan pandangan mengenai asal usul Pattimura berdasarkan pada cerita turun temurun yang diyakini masing-masing klaim akan kebenarannya. Tidak hanya perbedaan pendapat mengenai asal usul Pattimura, agama yang dianut oleh Pattimura juga turut diperdebatkan. Apakah Pattimura beragama Kristen atau Islam. Tentu, mengenai hal ini perlu riset akademik lebih mendalam untuk mendudukkan berdasarkan fakta sejarah ataupun antropologi asal usul Pattimura.

Semangat Pattimura

Menurut penulis, daripada memperdebatkan apakah Pattimura berasal dari mana? dan beragama apa? Disamping perdebatan tanpa data dan riset akademik yang mendalam sehingga dapat dipertanggungjawabkan. Menurut penulis, lebih penting dari sekedar perdebatan itu adalah mewarisi semangat Pattimura.

1557855062695.jpegSebelum dihukum gantung oleh Penjajah pada 16 Desember 1817, Pattimura mengatakan “nunu oli, nunu seli, nunu karipatu, patue kari nunu”. Jika dapat ditafsir bebas makna dari perkataan Kapitan Pattimura tersebut adalah “saya katakan kepada kamu sekalian, saya adalah beringin besar dan setiap beringin besar akan tumbang tapi beringin lain akan menggantinya. Saya katakan kepada kamu sekalian, saya adalah batu besar dan setiap batu besar akan terguling tapi batu lain akan menggantinya”.

Mewarisi semangat juang Pattimura adalah cara untuk menghidupkan Pattimura muda. Setiap generasi Maluku haruslah menjadi bagian penting dari pembangunan Maluku dan bangsa Indonesia pada umumnya. Mengambil peran dengan mendedikasikan setiap pekerjaan sebagai bentuk pengabdian dalam segala bidang dengan semangat Pattimura merupakan cara menghidupkan Pattimura-Pattimura muda.

Setiap generasi Maluku yang ada di tubuh birokrasi haruslah menjadi bagian penting dalam membangun birokrasi yang melayani. Yang berada di parlemen haruslah menjadi parlemen yang pro rakyat. Yang berada di cabang kekuasaan eksekutif haruslah menjadi sarana mensejahterakan rakyat. Prinsipnya, pada segala lini yang ditempati generasi Maluku, mesti mewujudkan kemaslahatan yang sebesar-besarnya. Generasi Maluku yang bermanfaat hanya untuk pribadi, keluarga dan krooni-krooninya adalah generasi Maluku yang tidak hanya membohongi diri sendiri, turut pula menanggung dosa atas tanggungjawab sejarah.

Maluku Saat Ini

Maluku saat ini tidaklah seperti Maluku yang dikenal dengan istilah Jazirah Tul Mulk pada masa lampau. Kini Maluku telah terbagi dalam dua wilayah adminsitratif Pemerintahan Provinsi yakni Maluku dan Maluku Utara. Tidak hanya itu, negeri para raja tidak hanya didiami oleh bangsa Maluku saja, namun juga telah didiami oleh para etnis Buton, Bugis, Jawa dan lainnya.

Keberadaan para etnis tersebut telah lama mendiami tanah Maluku,   hingga sudah sampai pada generasi ketiga bahkan keempat. Dalam pandangan penulis, menganggap mereka yang telah lama tinggal di Maluku, mendapatkan sumber hidup dari tanah Maluku, bahkan menjadikan Maluku sebagai kampung halaman, serta telah melakukan kawin silang dengan bangsa Maluku asli, sebagai pendatang rasa-rasanya kurang tepat. “Basudara” itu haruslah dipandang sebagai generasi Maluku. Sebab itu, mereka harus pula dituntut memiliki semangat Pattimura. Semangat juang membebaskan Maluku dari penjajah pada masa lampau, semangat membangun Maluku pada masa kini.

Closing Statement

Dari ujung Halmahera sampe Tenggara Jao Katong samua basudara”. Setiap orang yang mendiami kepulauan rempah-rempah adalah bersaudara. Tanpa melihat asal usul garis keturunan nenek moyang. Setiap orang yang mendiami negeri para raja, mesti memiliki semangat Pattimura.

Akhirnya, tulisan ini tentu masih jauh dari kesempurnaan. Andaikan ada kata yang menyinggung perasaan pembaca, tak ada niat sedikitpun dari penulis. Selamat memperingati 202 Tahun Hari Pattimura. Semoga dimomentum yang baik ini, kita tidak hanya melewati hari Pattimura dengan acara serimonial belaka, sibuk memperdebatkan asal usul dan agama yang dianut Pattimura, hingga lupa mengambil pelajaran terutama hikmah semangat Pattimura.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s